
Pendiri FSPMI Akhirnya Buka Suara! Sulaiman Ibrahim Tegaskan Kongres Berjalan Sah Tanpa Tekanan
Kabar Negeri Plus
Jakarta – Pendiri Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Sulaiman Ibrahim, S.H. akhirnya angkat bicara terkait dinamika yang muncul pasca kongres organisasi tersebut. Ia menegaskan bahwa proses kongres telah berjalan sesuai mekanisme organisasi serta tidak ditemukan adanya paksaan ataupun tekanan terhadap peserta.
Sulaiman menjelaskan bahwa sebelum kongres dilaksanakan, telah dilakukan observasi serta komunikasi dengan pimpinan federasi dan para pimpinan sektor untuk memastikan seluruh proses berjalan secara benar.
Menurutnya, dari hasil komunikasi tersebut seluruh pihak menyampaikan bahwa proses yang berlangsung dilakukan secara terbuka dan tanpa tekanan dari pihak mana pun.
“Semua sudah saya konfirmasi. Baik pimpinan federasi maupun pimpinan sektor menyampaikan bahwa tidak ada paksaan ataupun tekanan dalam proses tersebut,” ujar Sulaiman.
Ia menjelaskan bahwa panitia pemilihan juga telah menerima seluruh usulan calon yang diajukan oleh pihak yang memiliki hak pencalonan dalam organisasi.
Dari proses tersebut, dua nama resmi muncul sebagai kandidat dalam pemilihan kepemimpinan organisasi, yaitu Abdul Bais dan Suparno. Keduanya diterima oleh panitia calon sebagai kandidat sah dalam proses pemilihan.
Dalam dinamika musyawarah kongres, perbedaan pandangan muncul secara wajar. Enam pimpinan sektor mengusulkan Suparno yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Sektor Otomotif, Mesin, dan Komponen. Sementara satu sektor lainnya mengusulkan Abdul Bais yang menjabat sebagai Ketua Sektor Elektroni Elekrik
Dalam proses musyawarah selanjutnya, enam sektor bersama Dewan Pimpinan Wilayah akhirnya menyatakan dukungan kepada Suparno untuk memimpin FSPMI periode 2026–2031, sementara satu sektor tetap berada pada posisi yang berbeda.
Pada saat kongres berlangsung, Sulaiman juga diminta memberikan tausiyah terkait kepemimpinan organisasi. Dalam kesempatan tersebut ia mengingatkan peserta kongres tentang makna amanah kekuasaan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 26.
Menurutnya, kekuasaan merupakan amanah yang diberikan oleh Allah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya dan dapat pula dicabut dari siapa pun yang tidak lagi dikehendaki-Nya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa ketika kongres sebagai forum tertinggi organisasi telah mengambil keputusan, maka keputusan tersebut harus dihormati oleh seluruh anggota organisasi.
“Kalau kongres sudah memutuskan, maka suara terbanyak itulah yang menjadi keputusan organisasi. Pihak yang berbeda pendapat seharusnya menghormati dan mengikuti keputusan tersebut,” katanya.
Ia juga menilai perbedaan pandangan dalam musyawarah merupakan bagian dari dinamika demokrasi organisasi. Bahkan dalam forum kongres sempat terjadi walk out dari sebagian peserta.
“Perbedaan itu wajar. Walk out dalam musyawarah adalah bagian dari dinamika. Itu justru menunjukkan kehidupan demokrasi dalam organisasi,” ujar Sulaiman.
Namun ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh berkembang menjadi penolakan terhadap keputusan kongres, apalagi sampai membentuk forum atau kongres tandingan.
“Boleh tidak sependapat, tetapi tidak boleh melawan keputusan kongres. Apalagi sampai membuat kongres sendiri. Itu bisa dipandang sebagai bentuk pembangkangan terhadap keputusan organisasi,” tegasnya.
Menurut Sulaiman, kekuatan organisasi serikat pekerja selalu bertumpu pada persatuan para anggotanya. Perbedaan yang dikelola dengan baik justru akan memperkuat solidaritas organisasi.
“Betapa indahnya perbedaan jika tetap hidup dalam satu persatuan keluarga besar FSPMI. Mereka yang memilih memisahkan diri biasanya justru menghadapi jalan yang lebih sulit,” ujarnya.
Sebagai penutup, Sulaiman mengingatkan pesan lama yang selalu dipegang dalam kehidupan organisasi.
“Seperti kata orang tua kita dahulu: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”
Dok. KN+ Zea Safitri)



