
Syukur: Kunci Bertambahnya Nikmat di Bulan Ramadan 1447 H
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā, man yahdihillāhu falā muḍilla lah, wa man yuḍlil falā hādiya lah, asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh, allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sahabat pembaca setia Kabar Negeri Plus (KN+). Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Ramadan 11 adalah bulan latihan iman. Di dalamnya, syukur: kunci bertambahnya nikmat bukan sekadar tema, tetapi prinsip hidup yang menentukan kualitas takwa. Banyak orang fokus meminta tambahan rezeki, tetapi lupa mensyukuri yang sudah ada. Padahal Allah menegaskan, tambahan nikmat itu bergantung pada syukur.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini tegas. Tidak multitafsir. Tambahan nikmat adalah janji Allah, dan syaratnya jelas: syukur.
Hakikat Syukur dalam Islam
Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”. Itu baru permukaan. Hakikat syukur mencakup tiga hal:
1. Syukur dengan hati – Mengakui bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah.
2. Syukur dengan lisan – Memuji Allah atas karunia-Nya.
3. Syukur dengan perbuatan – Menggunakan nikmat sesuai perintah-Nya.

Ramadan menguji tiga-tiganya. Kita diberi kesehatan untuk berpuasa, waktu untuk beribadah, rezeki untuk berbuka. Jika semua itu justru menjauhkan dari Allah, berarti kita gagal bersyukur.
Rasulullah ﷺ memberi teladan nyata. Dalam sebuah hadis riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika ditanya mengapa beliau salat malam sampai bengkak kakinya padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab:
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini standar syukur seorang nabi. Ibadah bukan beban. Ibadah adalah bentuk terima kasih kepada Allah.
Syukur dan Relevansinya di Bulan Ramadan 1447 H
Di Ramadan 1447 H, kita kembali diberi kesempatan hidup. Banyak yang tahun lalu masih bersama kita, kini sudah di alam kubur. Kesempatan berpuasa adalah nikmat yang sering dianggap biasa.
Coba jujur. Saat lapar dan haus, kita merasakan nikmatnya seteguk air. Dari situ kita sadar bahwa nikmat kecil pun luar biasa. Ramadan mendidik kita untuk tidak meremehkan karunia Allah.
Syukur di bulan ini bisa diwujudkan dengan:
-
- Menjaga kualitas puasa, bukan sekadar menahan lapar.
-
- Memperbanyak sedekah sebagai bentuk syukur atas rezeki.
-
- Menghidupkan malam dengan ibadah.
-
- Menghindari keluhan yang tidak perlu.
Keluhan adalah pintu kufur nikmat. Syukur adalah pintu keberkahan.

Bahaya Kufur Nikmat
Allah sudah memberi peringatan. Lawan dari syukur adalah kufur nikmat. Bentuknya bukan hanya menolak keberadaan Allah, tetapi juga menyalahgunakan nikmat.
Harta dipakai untuk maksiat. Waktu dihabiskan untuk hal sia-sia. Jabatan digunakan untuk kezhaliman. Itu semua bentuk pengingkaran.
Nikmat bisa dicabut. Ketenangan bisa hilang. Rezeki bisa menyempit. Bukan karena Allah tidak adil, tetapi karena manusia tidak menjaga amanah nikmat.
Syukur sebagai Jalan Menuju Takwa
Tujuan puasa adalah takwa. Dan syukur adalah salah satu jalannya.
Orang yang bersyukur:
-
- Tidak mudah iri.
-
- Tidak mudah mengeluh.
-
- Tidak tamak.
-
- Tidak sombong.
Ia sadar semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Inilah mentalitas mukmin sejati.
Syukur membuat hati tenang. Hati yang tenang lebih mudah khusyuk. Khusyuk mendekatkan pada takwa. Maka jelas, syukur: kunci bertambahnya nikmat sekaligus pintu menuju derajat takwa.

Refleksi Ramadan Hari ke-11
Hari ini, evaluasi sederhana:
1. Sudahkah kita benar-benar bersyukur atas Ramadan?
2. Sudahkah nikmat sehat dipakai maksimal untuk ibadah?
3. Sudahkah rezeki kita berbagi kepada yang membutuhkan?
Jika belum, belum terlambat. Ramadan masih berjalan. Tambahan nikmat masih dijanjikan.
Syukur bukan teori. Syukur adalah praktik harian.
Penutup
Mari jadikan Ramadan 1447 H sebagai momentum memperbaiki cara kita memandang nikmat. Jangan hanya meminta tambahan rezeki, tetapi perbaiki kualitas syukur. Karena Allah tidak pernah ingkar janji.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Zea Safitri – Kabar Negeri Plus mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa 1447 H.

