
Kunci Ditambahnya Nikmat: Syukur
Kabar Negeri Plus – Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, tetapi sikap hidup yang lahir dari kesadaran atas nikmat Allah dan diwujudkan dalam ketaatan. Dalam ajaran Islam, syukur adalah fondasi spiritual yang menentukan apakah nikmat akan bertambah atau justru dicabut.
Secara sederhana, syukur berarti mengakui bahwa seluruh kenikmatan berasal dari Allah, lalu menggunakan nikmat itu sesuai dengan kehendak-Nya. Harta, kesehatan, keluarga, jabatan, hingga kesempatan hidup—semuanya adalah amanah. Ketika disadari dan dijalankan dengan benar, itulah syukur yang sesungguhnya.
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini tegas. Syukur mendatangkan tambahan nikmat. Kufur nikmat—mengabaikan, menyalahgunakan, atau tidak taat—mendatangkan konsekuensi.
Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan PWA ‘Aisyiah Lampung, Dra. Nurjanah Baharuddi, menegaskan bahwa syukur harus dipahami secara utuh dan tidak berhenti pada ucapan.
Menurutnya, syukur adalah kesadaran spiritual yang dibuktikan dengan ketaatan.
“Syukur itu bukan hanya kita mengucap alhamdulillah ketika mendapat nikmat. Syukur adalah menjalankan perintah Allah atas nikmat yang diberikan. Kalau diberi kesehatan, gunakan untuk salat dan ibadah. Kalau diberi rezeki, tunaikan kewajiban zakat dan sedekah. Kalau diberi waktu, jangan dihabiskan untuk hal yang sia-sia,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa janji Allah dalam QS. Ibrahim ayat 7 adalah prinsip kehidupan.
“Allah sudah tegas. Kalau kita bersyukur, nikmat ditambah. Tapi kalau kufur nikmat—tidak menjalankan perintah-Nya—maka itu bentuk pengingkaran. Syukur itu ketaatan, bukan sekadar perasaan,” tambahnya.
Dalam keseharian, syukur hadir dalam tindakan nyata. Ketika seseorang diberi kesehatan lalu menjaga salat lima waktu, itu syukur. Ketika memasuki bulan Ramadan dan tetap menunaikan puasa dengan disiplin, itu syukur. Ketika diberi jabatan lalu berlaku adil, itu syukur.
Rasulullah ﷺ memberi teladan. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, ketika beliau ditanya mengapa tetap salat malam hingga kakinya bengkak padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab:
“Afala akun ‘abdan syakura?”
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”
Standar syukur menurut Nabi jelas: ketaatan yang konsisten.
Dari perspektif dakwah, pesan syukur bukan sekadar nasihat moral, tetapi fondasi membangun masyarakat yang beriman dan berintegritas. Individu yang bersyukur akan menjaga amanah, menunaikan kewajiban, dan tidak menyalahgunakan nikmat.
Syukur adalah kunci. Bertambah atau tidaknya nikmat sangat ditentukan oleh sikap kita sendiri.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Dok. KN+ / Zea Safitri)


