Menahan Amarah: Kendali Diri dalam Iman

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM.
ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA ASYROFI KHOLQIKA MUHAMMADIN, WA ‘ALAA AALIHI WA ASHHAABIHI AJMA’IIN.
ALHAMDULILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN, HAMDAN YUWAAFI NI’AMAHU WA YUKAAFI’U MAZIIDAH.
WASH-SHALAATU WAS-SALAAMU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN, WA ‘ALAA AALIHI WA SHAHBIHI AJMA’IIN.
AMMAA BA’DU.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga rahmat dan perlindungan Allah SWT selalu menyertai kita.

Sahabat pembaca setia Kabar Negeri Plus (KN+), Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Hari kedelapan Ramadan mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada fisik atau suara yang keras, melainkan pada kemampuan mengendalikan amarah. Banyak orang terlihat kuat ketika mampu membalas, tetapi sejatinya yang lebih kuat adalah yang mampu menahan diri.

Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

BEASISWA YAYASAN KHALIFAH ALFITAMA 2025/2026
BEASISWA YAYASAN KHALIFAH ALFITAMA 2025/2026

Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kekuatan dalam Islam adalah kendali diri. Amarah sering kali lahir dari ego yang tersinggung, keinginan yang tidak terpenuhi, atau rasa tidak dihargai. Jika tidak dikendalikan, amarah dapat merusak hubungan, memutus silaturahmi, bahkan menjerumuskan pada dosa.

Puasa melatih kita untuk sabar. Saat lapar dan haus, emosi lebih mudah tersulut. Di sinilah kualitas iman diuji. Orang yang berpuasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan, sikap, dan respons terhadap provokasi.

Allah SWT berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain.”
(QS. Ali Imran: 134)

Ayat ini menempatkan kemampuan menahan amarah sebagai ciri orang bertakwa. Bukan hanya menahan, tetapi juga memaafkan. Di sinilah letak kemuliaannya. Ramadan 1447 H harus menjadi momentum melatih diri untuk meredam ego, memperbaiki akhlak, dan memilih jalan damai daripada memperpanjang konflik.

Menahan marah bukan berarti lemah. Justru itulah tanda kedewasaan iman dan kekuatan jiwa. Orang yang mampu mengendalikan emosinya sedang menjaga kehormatan dirinya di hadapan Allah SWT.

Yayasan Khalifah Alfitama membuka program beasiswa pendidikan bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah di Alifa Institute

Sering kali amarah muncul karena kita merasa paling benar dan ingin dimenangkan. Padahal, setiap kali kita memilih diam saat mampu membalas, di situlah Allah melihat kesungguhan iman kita. Bisa jadi satu amarah yang kita tahan hari ini menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa kita yang lain. Bisa jadi satu kata kasar yang tidak jadi terucap menjadi penyelamat kita di hadapan Allah kelak.

Ramadan adalah madrasah jiwa. Ia mendidik kita agar tidak dikuasai hawa nafsu, tetapi tunduk kepada nilai takwa. Ketika hati mulai panas, ingatlah bahwa Allah Maha Melihat. Ketika emosi ingin meluap, ingatlah bahwa pahala orang yang bersabar tidak terbatas. Menahan amarah adalah ibadah yang sunyi, tidak dipuji manusia, tetapi bernilai besar di sisi Allah SWT.

Penutup
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang mampu mengendalikan amarah dan menjaga hati tetap bersih.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Zea Safitri – Kabar Negeri Plus mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa 1447 H.

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *