Belajar Bersyukur Di Tengah Kekurangan

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN
Rubrik Dakwah Harian Hari 20 | 20 September 2026

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh, pagi kembali hadir.

Tetapi tidak semua orang menyambut pagi dengan keadaan yang sama.

Ada yang bangun dengan rumah yang nyaman.

Ada yang bangun dengan memikirkan cicilan.

Ada yang sarapan dengan makanan yang cukup.

Ada yang harus menghitung uang sebelum membeli kebutuhan.

Ada yang bekerja dengan penghasilan yang baik.

Ada pula yang setiap hari masih bertanya, “Bagaimana kebutuhan keluarga hari ini bisa terpenuhi?”

Di tengah keadaan seperti itu, berbicara tentang syukur terkadang terasa tidak mudah.

Bagaimana mungkin seseorang bersyukur ketika hidup sedang kekurangan?

Bagaimana mungkin hati merasa cukup ketika kebutuhan masih banyak?

Jawabannya bukan dengan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Bersyukur bukan berarti menyangkal kesulitan.

Bersyukur adalah belajar melihat nikmat Allah bahkan ketika kehidupan belum sempurna.

Syukur Bukan Berarti Tidak Boleh Menginginkan Perubahan

Allah berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

QS. Ibrahim: 7

Syukur bukan berarti kita harus berhenti berusaha.

Seorang yang bersyukur tetap boleh mencari pekerjaan yang lebih baik.

Tetap boleh membangun usaha.

Tetap boleh memperbaiki rumah.

Tetap boleh berharap memiliki kehidupan yang lebih layak.

Tetapi ia tidak membiarkan kekurangan membuatnya lupa kepada semua nikmat yang masih ada.

Syukur dan ikhtiar bukan dua hal yang bertentangan.

Kita bersyukur atas apa yang telah Allah berikan, sekaligus berusaha memperbaiki apa yang masih menjadi kekurangan.

Jangan Menunggu Kaya untuk Bersyukur

Sering kali kita berkata:

“Nanti kalau sudah punya banyak uang, aku akan bersyukur.”

“Nanti kalau usaha sudah berhasil, aku akan tenang.”

“Nanti kalau punya rumah sendiri, aku akan bahagia.”

“Nanti kalau semua masalah selesai, aku akan merasa cukup.”

Padahal hidup tidak pernah benar-benar bebas dari ujian.

Ketika pendapatan bertambah, kebutuhan bisa ikut bertambah.

Ketika satu masalah selesai, bisa muncul masalah lain.

Jika kebahagiaan selalu menunggu keadaan sempurna, kita mungkin akan terus menunggu.

Karena itu, belajarlah bersyukur sekarang, bukan hanya nanti.

Syukuri tubuh yang masih diberi kemampuan bekerja.

Syukuri keluarga yang masih bisa ditemui.

Syukuri makanan yang masih bisa dinikmati.

Syukuri kesempatan untuk beribadah.

Syukuri kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Syukuri satu hari lagi yang Allah berikan.

Kadang nikmat terbesar bukan sesuatu yang mahal.

Nikmat terbesar adalah sesuatu yang selama ini kita miliki tetapi jarang kita sadari.

Kekurangan Tidak Menghapus Nikmat

Seseorang bisa saja kekurangan uang tetapi masih memiliki keluarga yang menyayanginya.

Bisa kekurangan harta tetapi memiliki kesehatan.

Bisa belum memiliki rumah sendiri tetapi masih memiliki tempat untuk berteduh.

Bisa belum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan tetapi masih memiliki tenaga untuk berusaha.

Bisa sedang menghadapi masalah tetapi masih memiliki kesempatan untuk bersujud.

Jangan biarkan satu kekurangan menutupi sepuluh nikmat yang masih Allah berikan.

Bukan berarti masalah kita kecil.

Tetapi nikmat Allah memang sering kali jauh lebih banyak daripada yang mampu kita hitung.

Allah berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

QS. An-Nahl: 18

Syukur Dimulai dari Cara Memandang Kehidupan

Ada orang yang memiliki banyak tetapi selalu merasa kurang.

Ada pula yang memiliki sedikit tetapi hatinya tetap mampu mengucapkan Alhamdulillah.

Perbedaannya tidak selalu terletak pada jumlah harta.

Sering kali terletak pada cara hati memandang apa yang dimiliki.

Orang yang tidak pernah merasa cukup akan terus melihat milik orang lain.

Sedangkan orang yang belajar bersyukur mulai memperhatikan nikmat yang berada di tangannya sendiri.

Ia tidak berhenti bermimpi.

Tetapi ia tidak membenci kehidupannya hanya karena belum memiliki kehidupan orang lain.

Kisah Sederhana dari Sebuah Rumah Kecil

Ini merupakan ilustrasi sederhana, bukan kisah sejarah.

Seorang ibu tinggal bersama keluarganya di rumah sederhana.

Atap rumahnya pernah bocor.

Perabotannya tidak banyak.

Penghasilan suaminya juga tidak selalu sama setiap bulan.

Suatu malam, hujan turun cukup deras.

Air masuk melalui bagian atap yang rusak.

Anak-anaknya harus memindahkan beberapa barang.

Sang ibu sempat merasa sedih.

Ia kemudian duduk bersama keluarganya setelah hujan mulai reda.

Ia melihat anak-anaknya masih tertawa.

Suaminya masih berada di sampingnya.

Mereka masih memiliki makanan untuk malam itu.

Mereka masih bisa salat bersama.

Sang ibu kemudian berkata:

“Rumah kita memang belum sempurna. Tapi malam ini kita masih bersama. Alhamdulillah.”

Besok paginya, ia dan suaminya mulai mencari cara memperbaiki atap.

Mereka tidak menjadikan syukur sebagai alasan untuk membiarkan kerusakan.

Mereka bersyukur sambil berusaha.

Itulah syukur yang hidup: menerima nikmat dengan hati dan memperbaiki keadaan dengan ikhtiar.

Jangan Bandingkan Kekuranganmu dengan Kelebihan Orang Lain

Kita telah belajar pada Hari sebelumnya bahwa membandingkan kehidupan dengan orang lain dapat membuat hati lelah.

Hal yang sama berlaku dalam urusan rezeki.

Jika terus melihat orang yang lebih kaya, kita akan selalu menemukan seseorang yang memiliki lebih banyak.

Jika terus menghitung apa yang belum kita punya, kita akan lupa menghitung apa yang sudah ada.

Karena itu, ketika melihat keberhasilan orang lain, jadikan sebagai motivasi.

Bukan sebagai alasan untuk membenci hidup sendiri.

Katakan:

“Alhamdulillah atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Ya Allah, berkahilah rezekiku dan cukupkan aku dengan rezeki yang halal.”

Dengan begitu, hati belajar mengubah rasa iri menjadi doa.

Syukur Juga Harus Terlihat dalam Perbuatan

Syukur bukan hanya ucapan Alhamdulillah.

Jika Allah memberi kesehatan, gunakan untuk kebaikan.

Jika Allah memberi ilmu, gunakan untuk membantu.

Jika Allah memberi rezeki, jangan lupa berbagi.

Jika Allah memberi waktu, jangan habiskan semuanya untuk hal yang sia-sia.

Jika Allah memberi keluarga, jaga mereka.

Jika Allah memberi kesempatan hidup sampai pagi ini, gunakan hari tersebut untuk mendekat kepada-Nya.

Nikmat yang disyukuri bukan hanya diucapkan, tetapi juga digunakan dengan benar.

Ketika Rezeki Terasa Sempit

Ada masa ketika kita benar-benar harus mengencangkan ikat pinggang.

Kurangi pengeluaran.

Menunda keinginan.

Mencari pekerjaan tambahan.

Mengatur kembali kebutuhan keluarga.

Dalam keadaan seperti itu, jangan malu untuk berusaha.

Jangan malu belajar.

Jangan malu memulai dari kecil.

Jangan malu meminta bantuan yang baik dan wajar ketika memang membutuhkan.

Dan jangan merasa rendah hanya karena kondisi ekonomi sedang sulit.

Nilai manusia tidak ditentukan oleh kendaraan yang dikendarainya, rumah yang ditempatinya, atau jumlah uang yang dimilikinya.

Kemuliaan di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaan.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

QS. Al-Hujurat: 13

Maka jangan biarkan keadaan ekonomi membuat kita kehilangan harga diri sebagai seorang Muslim.

Baca Juga:

Doa Yang Tidak Pernah Sia-Sia

 

Aksi Hari Ini

Setelah membaca tulisan ini, ambillah waktu beberapa menit.

Tuliskan lima nikmat yang masih Allah berikan kepada kita hari ini.

Tidak perlu sesuatu yang besar.

Bisa berupa:

Kesehatan.

Keluarga.

Pekerjaan.

Tempat tinggal.

Kesempatan beribadah.

Kemudian ucapkan Alhamdulillah dengan sadar, bukan sekadar kebiasaan.

Setelah itu, pilih satu kekurangan yang memang perlu diperbaiki.

Tentukan satu langkah nyata yang bisa dilakukan hari ini.

Jika masalahnya keuangan, mulai mencatat pengeluaran.

Jika masalahnya pekerjaan, kirim satu lamaran.

Jika masalahnya usaha, evaluasi satu bagian.

Jika masalahnya hubungan keluarga, mulai dengan meminta maaf atau berbicara dengan baik.

Syukuri yang ada. Perbaiki yang kurang. Serahkan hasilnya kepada Allah.

Penutup

Saudaraku,

Bersyukur bukan berarti hidup kita harus sempurna.

Bersyukur berarti kita tidak membiarkan kekurangan membuat kita buta terhadap nikmat.

Boleh menangis.

Boleh merasa lelah.

Boleh mengakui bahwa hidup sedang sulit.

Tetapi jangan sampai kesulitan membuat kita lupa mengucapkan Alhamdulillah.

Sebab boleh jadi, di antara hal-hal yang kita anggap biasa, terdapat nikmat yang sangat besar.

Kita masih bernapas.

Masih bisa melihat.

Masih bisa berjalan.

Masih bisa bekerja.

Masih bisa memeluk keluarga.

Masih bisa membaca Al-Qur’an.

Masih bisa bersujud.

Dan yang paling penting:

Allah masih memberikan kita kesempatan untuk kembali kepada-Nya.

Jangan tunggu kehilangan sesuatu untuk menyadari nilainya.

Jangan tunggu sakit untuk menghargai kesehatan.

Jangan tunggu kehilangan keluarga untuk menghargai kebersamaan.

Jangan tunggu rezeki berlimpah untuk belajar bersyukur.

Belajarlah bersyukur hari ini, sambil terus berikhtiar untuk hari esok.

Karena hati yang bersyukur bukan berarti tidak memiliki keinginan.

Hati yang bersyukur tahu bagaimana berharap tanpa menjadi hamba dari keinginannya sendiri.

Doa

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allahumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik.

“Ya Allah, bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

Ya Allah, ajarkan kami untuk bersyukur dalam kelapangan maupun kesempitan.

Jangan biarkan kekurangan membuat kami kufur terhadap nikmat-Mu. Jangan pula biarkan kelebihan membuat kami lupa kepada-Mu.

Berikan kami rezeki yang halal, cukup, dan penuh keberkahan. Berikan kami kekuatan untuk berusaha memperbaiki kehidupan tanpa kehilangan rasa syukur.

Jika rezeki kami sedikit, lapangkan hati kami. Jika rezeki kami banyak, jadikan kami dermawan. Jika jalan kami sulit, kuatkan langkah kami.

Jadikan kami hamba yang mampu melihat nikmat-Mu, menjaga nikmat-Mu, dan menggunakan nikmat-Mu untuk kebaikan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Dok. KN+ Zea Safitri

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *