Perbanyak Dzikir Ketika Hati Mulai Gelisah

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN

Rubrik Dakwah Harian 11 | 11 September 2026

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh, Allah kembali mempertemukan kita dengan pagi yang baru.

Setiap manusia pasti pernah merasakan gelisah.

Ada kegelisahan karena pekerjaan.

Ada kekhawatiran tentang keluarga.

Ada kecemasan menghadapi masa depan.

Ada masalah yang belum menemukan jalan keluar.

Ada pula kesedihan yang bahkan sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Kadang kita mencoba menghilangkan kegelisahan dengan menyibukkan diri.

Membuka telepon genggam.

Melihat media sosial.

Mencari hiburan.

Berbicara dengan orang lain.

Namun setelah semuanya selesai, hati masih terasa kosong.

Mungkin kita sedang mencari ketenangan di tempat yang salah.

Sebab hati manusia memiliki kebutuhan yang tidak bisa sepenuhnya dipenuhi oleh dunia.

Hati membutuhkan Allah.

Dan salah satu jalan untuk kembali mendekat kepada-Nya adalah dengan memperbanyak dzikir.

Hati Menjadi Tenteram dengan Mengingat Allah

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini bukan sekadar kalimat indah.

Ia adalah pengingat bagi kita bahwa hubungan hati dengan Allah memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin.

Dzikir tidak selalu berarti kita harus berada di masjid sepanjang hari.

Dzikir dapat dilakukan dalam berbagai keadaan.

Ketika duduk.

Ketika berjalan.

Ketika menunggu.

Setelah salat.

Sebelum tidur.

Saat berkendara.

Bahkan ketika hati sedang gelisah.

Lisan mengingat Allah, hati belajar kembali kepada-Nya.

Dzikir Bukan Berarti Masalah Langsung Hilang

Ada hal penting yang perlu kita pahami.

Ketika kita berdzikir, bukan berarti semua masalah akan langsung selesai.

Utang mungkin masih ada.

Pekerjaan mungkin belum mendapatkan kepastian.

Persoalan keluarga mungkin masih harus diselesaikan.

Kondisi yang kita hadapi mungkin belum berubah.

Tetapi dzikir dapat membantu kita menghadapi semua itu dengan hati yang lebih sadar bahwa kita tidak sendirian.

Kita memiliki Allah.

Kita memiliki tempat untuk berserah.

Kita memiliki Tuhan yang mengetahui apa yang sedang kita hadapi.

Karena itu, jangan menjadikan dzikir hanya sebagai cara untuk meminta masalah segera hilang.

Jadikan dzikir sebagai cara untuk mendekat kepada Allah di tengah masalah.

Ketika Pikiran Terlalu Ramai

Pernahkah kita berbaring di malam hari tetapi pikiran justru semakin ramai?

Tubuh sudah lelah.

Tetapi pikiran terus berjalan.

Memikirkan kejadian hari ini.

Membayangkan kemungkinan buruk esok hari.

Mengulang perkataan seseorang.

Memikirkan masalah yang belum selesai.

Dalam keadaan seperti itu, kita sering mencoba memaksa pikiran untuk berhenti.

Padahal terkadang yang kita perlukan bukan sekadar menghentikan pikiran.

Kita perlu mengarahkannya kembali kepada Allah.

Tarik napas perlahan.

Ucapkan istighfar.

Bertasbih.

Bertahmid.

Bertakbir.

Kemudian berdoa.

Tidak perlu terburu-buru.

Biarkan hati perlahan menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam pengetahuan dan kekuasaan Allah.

Sebuah Kisah Sederhana

Bayangkan seorang ayah yang baru pulang dari pekerjaannya.

Hari itu pekerjaannya tidak berjalan baik.

Ada target yang gagal dicapai.

Ada persoalan yang belum selesai.

Di rumah, ia tetap berusaha tersenyum di hadapan keluarganya.

Namun ketika sendirian beberapa saat setelah salat, pikirannya kembali dipenuhi kekhawatiran.

Ia kemudian mengambil tasbih.

Perlahan ia mengucapkan istighfar.

Kemudian membaca tasbih, tahmid, dan takbir.

Tidak ada keajaiban yang tiba-tiba menghapus semua persoalannya.

Namun beberapa saat kemudian ia merasa lebih tenang.

Ia kembali mengingat bahwa tugasnya adalah berusaha sebaik mungkin, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.

Masalahnya belum selesai.

Tetapi hatinya tidak lagi menghadapi masalah itu dengan kepanikan yang sama.

Kisah ini merupakan ilustrasi sederhana tentang bagaimana dzikir dapat menjadi bagian dari usaha seorang hamba untuk menata hati dan kembali bersandar kepada Allah.

Dzikir Mengajarkan Kita untuk Tidak Larut dalam Kegelisahan

Kegelisahan terkadang membuat kita melihat masalah jauh lebih besar daripada kemampuan kita menghadapinya.

Kita lupa bahwa Allah Mahabesar.

Kita hanya melihat persoalan.

Allah mengetahui jalan keluarnya.

Kita melihat keterbatasan.

Allah Mahakuasa.

Kita melihat apa yang terjadi hari ini.

Allah mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.

Maka ketika hati mulai gelisah, jangan biarkan pikiran terus membawa kita semakin jauh dalam kekhawatiran.

Kembalilah kepada Allah.

Ucapkan:

Astaghfirullāh.

Subhānallāh.

Alhamdulillāh.

Allāhu Akbar.

Dan perbanyak doa.

Bukan karena dzikir adalah mantra yang menghilangkan masalah secara otomatis.

Tetapi karena kita sedang mengingat siapa yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu.

Dzikir Menghidupkan Hati

Tubuh yang tidak mendapatkan makanan akan menjadi lemah.

Begitu pula hati yang jauh dari mengingat Allah dapat kehilangan kekuatan spiritualnya.

Kita mungkin memiliki banyak hal.

Tetapi jika hati jauh dari Allah, semua itu belum tentu menghadirkan ketenangan.

Sebaliknya, seseorang yang sederhana dalam kehidupannya dapat memiliki hati yang kuat karena ia selalu mengingat Allah.

Karena itu, jangan hanya menjaga kesehatan tubuh.

Jagalah juga kehidupan hati.

Berikan hati makanan berupa dzikir.

Berikan hati ketenangan melalui doa.

Berikan hati cahaya melalui Al-Qur’an.

Dan kuatkan hati dengan ketaatan.

Renungan Subuh Hari Ini

Pagi ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Ketika hati kita gelisah, kepada siapa kita pertama kali mencari ketenangan?

Apakah kita langsung mengeluh kepada manusia?

Apakah kita tenggelam dalam media sosial?

Apakah kita terus memikirkan masalah tanpa henti?

Ataukah kita segera mengingat Allah?

Tidak salah meminta bantuan kepada manusia.

Tidak salah mencari nasihat.

Tidak salah berusaha menyelesaikan masalah.

Tetapi jangan sampai kita lupa kepada Pemilik segala pertolongan.

Ketika hati mulai gelisah, jadikan dzikir sebagai salah satu tempat pertama untuk kembali.

Baca Juga:

Perbanyak Istighfar Sebelum Waktu Habis

 

Aksi Hari Ini

Hari ini, mari membuat satu kebiasaan sederhana.

Setelah setiap salat fardu, jangan langsung meninggalkan tempat.

Luangkan beberapa menit untuk berdzikir dengan tenang.

Baca istighfar.

Bertasbih.

Bertahmid.

Bertakbir.

Kemudian berdoa.

Selain itu, setiap kali hati mulai gelisah sepanjang hari, hentikan aktivitas sejenak jika memungkinkan.

Tarik napas.

Tenangkan diri.

Ucapkan istighfar.

Kemudian serahkan hasilnya kepada Allah setelah kita melakukan ikhtiar terbaik.

Jangan menunggu hati tenang untuk berdzikir. Berdzikirlah agar hati belajar tenang bersama Allah.

Jangan Biarkan Kegelisahan Menjauhkan Kita dari Allah

Saudaraku,

Kita tidak bisa meminta kehidupan tanpa ujian.

Selama hidup, akan selalu ada sesuatu yang menguji kesabaran kita.

Ada kehilangan.

Ada kegagalan.

Ada penantian.

Ada ketidakpastian.

Ada hari ketika kita merasa kuat.

Ada pula hari ketika kita merasa sangat lemah.

Tetapi jangan biarkan kegelisahan membuat kita menjauh dari Allah.

Justru ketika hati sedang lemah, itulah saatnya kita semakin mendekat.

Perbanyak dzikir.

Perbanyak doa.

Perbaiki salat.

Baca Al-Qur’an.

Dan teruslah berusaha.

Semoga setiap kalimat dzikir yang keluar dari lisan kita menjadi pengingat bagi hati bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Semoga hati kita menjadi lebih tenang, bukan karena kehidupan selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi karena kita belajar menerima bahwa Allah selalu memiliki hikmah dalam setiap ketetapan-Nya.

Ya Allah, ketika hati kami gelisah, dekatkan kami kepada-Mu.

Ketika pikiran kami dipenuhi kekhawatiran, tenangkan kami dengan mengingat-Mu.

Jadikan lisan kami ringan berdzikir dan hati kami hidup dalam ketaatan kepada-Mu.

Ajarkan kami untuk bersabar ketika menghadapi ujian, bersyukur ketika menerima nikmat, dan bertawakal setelah melakukan ikhtiar.

Jangan biarkan kegelisahan membuat kami jauh dari-Mu. Justru jadikan setiap ujian sebagai jalan bagi kami untuk semakin mengenal, mengingat, dan mendekat kepada-Mu.

Ampuni dosa-dosa kami, lembutkan hati kami, dan berikan ketenangan yang hanya Engkau mampu berikan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Dok. KN+ Zea Safitri

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *