Hormati Orang Tua Sebelum Kehilangan Kesempatan

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN
Rubrik Dakwah Harian Hari 27 | 27 September 2026

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh, kita kembali diberi kesempatan menikmati pagi, menghirup udara kehidupan, dan bertemu dengan orang-orang yang Allah hadirkan dalam perjalanan hidup kita.

Di antara nikmat yang sering baru terasa nilainya ketika mulai berkurang adalah kehadiran orang tua.

Ketika masih bersama, terkadang kita menganggap nasihat mereka sebagai sesuatu yang biasa.

Telepon mereka kita tunda.

Pesan mereka kita jawab nanti.

Ajakan berbicara kita anggap tidak mendesak.

Kita sibuk mengejar pekerjaan, mengejar target, membangun kehidupan, hingga lupa bahwa ada dua orang yang mungkin hanya menginginkan satu hal sederhana:

anaknya masih mau meluangkan waktu.

Karena itu, jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kesempatan berbakti.

Allah Memerintahkan Berbuat Baik kepada Orang Tua

Allah SWT berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.”
QS. Al-‘Ankabut: 8

Dalam Al-Qur’an, perintah berbuat baik kepada orang tua memiliki kedudukan yang sangat penting.

Bahkan dalam QS. Al-Isra’ ayat 23, Allah memerintahkan agar manusia tidak mengatakan kepada kedua orang tuanya perkataan yang menyakiti, termasuk ucapan “ah”, serta berbicara kepada mereka dengan perkataan yang mulia.

Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua bukan hanya tentang memberikan materi.

Cara berbicara juga bagian dari bakti.

Cara kita memperlakukan mereka juga bagian dari bakti.

Kesediaan mendengarkan juga bagian dari bakti.

Orang Tua Tidak Selalu Meminta Banyak

Ketika anak masih kecil, orang tua memberikan hampir seluruh waktunya.

Mereka menemani ketika sakit.

Membantu ketika kesulitan.

Mengkhawatirkan ketika kita belum pulang.

Mendoakan ketika kita menghadapi masalah.

Namun ketika anak tumbuh dewasa, keadaan sering berubah.

Anak mulai memiliki pekerjaan.

Memiliki keluarga sendiri.

Memiliki kesibukan.

Memiliki banyak urusan.

Sementara orang tua perlahan memasuki usia yang semakin tua.

Mereka mungkin tidak lagi meminta banyak.

Kadang hanya ingin ditelepon.

Ingin ditemani makan.

Ingin mendengar cerita anaknya.

Atau sekadar ingin mengetahui bahwa anaknya baik-baik saja.

Sebuah Kisah Sederhana

Bayangkan seorang anak laki-laki yang bekerja di kota jauh dari rumah.

Setiap kali ibunya menelepon, ia sering menjawab, “Nanti saya telepon balik, Bu. Lagi sibuk.”

Hari demi hari berlalu.

Sampai suatu pagi, ia menerima kabar bahwa ibunya sedang sakit.

Ia pulang dan melihat ibunya terbaring lemah.

Di tengah kesedihan itu, ia teringat banyak panggilan yang pernah ia abaikan.

Ia tidak dapat mengulang waktu.

Namun ia menyadari satu hal:

Kesibukan yang dahulu terasa sangat penting ternyata tidak lebih berharga daripada kesempatan untuk bersama orang tua.

Kisah ini merupakan ilustrasi, bukan kisah nyata.

Pesannya sederhana: jangan menunggu keadaan berubah untuk mulai menghargai orang tua.

Berbakti Tidak Harus Menunggu Punya Banyak Uang

Ada anggapan bahwa berbakti kepada orang tua harus selalu dilakukan dengan memberikan sesuatu yang mahal.

Tidak.

Jika Allah memberikan kemampuan, tentu membantu kebutuhan orang tua merupakan kebaikan.

Namun bakti tidak hanya berupa uang.

Menelepon.

Mengunjungi.

Mendengarkan.

Membantu pekerjaan rumah.

Mengantar berobat.

Menemani ketika kesepian.

Mengingatkan dengan lembut.

Mendoakan.

Bahkan menahan diri agar tidak berbicara kasar ketika sedang berbeda pendapat.

Semua itu memiliki nilai.

Kadang-kadang, waktu adalah hadiah yang paling dibutuhkan orang tua.

Jangan Tunggu Hari Tua untuk Membalas Jasa

Tidak mungkin kita membalas seluruh pengorbanan orang tua dengan sempurna.

Sejak kecil, mereka telah memberikan tenaga, waktu, perhatian, dan kasih sayang.

Maka ketika kita sudah dewasa dan memiliki kemampuan, jangan sampai seluruh keberhasilan hanya dinikmati untuk diri sendiri.

Sisihkan waktu untuk mereka.

Tanyakan kabarnya.

Datangi jika memungkinkan.

Bantu kebutuhannya.

Dan yang tidak kalah penting, doakan mereka.

Allah SWT mengajarkan doa:

“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku pada waktu aku kecil.”
QS. Al-Isra’: 24

Doa ini mengajarkan kita untuk selalu mengingat jasa orang tua.

Ketika Hubungan Tidak Sempurna

Tidak semua keluarga memiliki hubungan yang mudah.

Ada orang yang memiliki luka masa lalu dengan orang tuanya.

Ada perbedaan pandangan.

Ada komunikasi yang sulit.

Ada keadaan keluarga yang kompleks.

Karena itu, berbakti bukan berarti mengabaikan persoalan yang ada atau membiarkan perlakuan yang membahayakan.

Namun sebisa mungkin, seorang Muslim tetap menjaga adab dan tidak membalas keburukan dengan penghinaan.

Jika hubungan terasa sulit, mulailah dari hal yang paling mungkin dilakukan:

berbicara dengan baik, menjaga batas yang sehat, mendoakan, dan memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.

Renungan Pagi

Coba tanyakan kepada diri sendiri:

Kapan terakhir kali kita benar-benar berbicara dengan orang tua tanpa terburu-buru?

Kapan terakhir kali kita bertanya:

“Bagaimana keadaan Ibu?”

“Bagaimana keadaan Ayah?”

“Apakah ada yang bisa saya bantu?”

Mungkin kita merasa masih memiliki banyak waktu.

Tetapi waktu bukan sesuatu yang bisa kita pastikan.

Ada hari ketika seseorang masih bisa mendengar suara orang tuanya.

Dan ada hari ketika suara itu hanya tinggal kenangan.

Karena itu, selama kesempatan masih ada, jangan pelit memberikan perhatian.

Baca Juga:

Jangan Menyakiti Hati Orang Yang Tidak Bersalah

 

Aksi Hari Ini

Hari ini, lakukan satu tindakan nyata untuk orang tua.

Jika mereka masih bersama kita, telepon atau temui mereka.

Tanyakan keadaan mereka.

Dengarkan ceritanya tanpa terburu-buru.

Jika mereka membutuhkan bantuan, lakukan sesuai kemampuan.

Jika kita sedang jauh, jangan jadikan jarak sebagai alasan untuk tidak peduli.

Jika orang tua telah meninggal dunia, lanjutkan bakti dengan mendoakan mereka dan melakukan amal kebaikan yang dapat menjadi bentuk penghormatan kepada jasa mereka.

Tidak perlu menunggu hari istimewa.

Hari ini adalah kesempatan.

Penutup

Saudaraku,

Kesempatan berbakti kepada orang tua tidak selalu terbuka selamanya.

Karena itu, jangan tunggu mereka sakit untuk mulai peduli.

Jangan tunggu mereka tua untuk mulai menemani.

Jangan tunggu kehilangan untuk mulai menghargai.

Jika hari ini mereka masih bisa kita telepon, teleponlah.

Jika masih bisa kita kunjungi, kunjungilah.

Jika masih bisa kita peluk, peluklah.

Jika masih bisa kita mintai maaf, mintalah maaf.

Dan jika mereka telah tiada, jangan berhenti mendoakan.

Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang mampu berbakti, lembut dalam berbicara, ringan membantu, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang masih diberikan.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Doa

Rabbirhamhumā kamā rabbayānī shaghīrā.

Ya Allah, sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka telah menyayangi dan merawat kami ketika kecil.

Ampunilah dosa mereka.

Berikan kesehatan, keberkahan, dan ketenangan bagi orang tua kami yang masih Engkau beri kesempatan hidup.

Jika mereka telah mendahului kami, ampunilah mereka, rahmati mereka, dan tempatkan mereka dalam kasih sayang-Mu.

Berikan kami hati yang lembut untuk menghormati mereka, kesabaran untuk menghadapi kekurangan mereka, dan keikhlasan untuk berbakti selama kesempatan masih Engkau berikan.

Jangan biarkan kami menyesal karena terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa menghargai orang tua.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Dok. KN+ Zea Safitri

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *