dua sisi erupsi: alarm spiritual dan panggilan syariat untuk mitigasi bencana

Lampung Barat, Kabar Negeri Plus — Ketika langit berubah kelam, abu vulkanik menyelimuti permukiman, dan suara aktivitas gunung terdengar menggetarkan, manusia dihadapkan pada satu pertanyaan besar: apakah erupsi hanya peristiwa geologis, atau juga menjadi momentum bagi manusia untuk berhenti sejenak, bermuhasabah, dan kembali menyadari keterbatasan dirinya?


Bagi umat Islam, fenomena alam dapat menjadi ayat kauniyah—tanda-tanda kebesaran Allah yang mendorong manusia untuk merenung. Namun, refleksi spiritual tidak boleh berubah menjadi kesimpulan gegabah bahwa setiap bencana merupakan hukuman atas dosa masyarakat tertentu.


Di sinilah dua sisi erupsi perlu ditempatkan secara proporsional: sains menjelaskan prosesnya, sementara iman mengajarkan bagaimana manusia menyikapinya.
erupsi adalah sunnatullah yang harus dipahami, bukan ditantang
Gunung berapi memiliki mekanisme alam yang dapat dipelajari melalui ilmu vulkanologi. Aktivitas magma, tekanan di dalam bumi, gempa vulkanik, hingga perubahan status gunung merupakan bagian dari indikator yang menjadi dasar pemantauan dan peringatan dini.


Karena itu, ketika para ahli mengeluarkan rekomendasi evakuasi, masyarakat tidak seharusnya mengabaikannya dengan alasan tawakal.
Tawakal bukan berarti menolak ikhtiar.


Justru, ikhtiar merupakan bagian penting dari sikap seorang muslim dalam menghadapi ancaman. Jika suatu wilayah dinyatakan berbahaya, meninggalkan zona tersebut menuju tempat yang lebih aman merupakan bentuk usaha menjaga kehidupan.


jangan salah memahami takdir
Salah satu tantangan terbesar ketika bencana terjadi adalah munculnya pemahaman fatalistik: menyerahkan semuanya kepada takdir tanpa melakukan tindakan penyelamatan.


Padahal, prinsip hifzhun nafs atau perlindungan jiwa merupakan salah satu tujuan penting dalam syariat Islam.
Pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 195 juga mengingatkan manusia agar tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Ayat tersebut menjadi salah satu landasan penting bahwa keselamatan dan kehati-hatian tidak boleh diabaikan.


Maka, bertahan di zona bahaya hanya karena menganggap evakuasi sebagai bentuk tidak percaya takdir bukanlah sikap yang tepat.
Takdir tidak menghapus kewajiban manusia untuk berusaha.
ketika sirene berbunyi, kaki harus bergerak
Di tengah kepanikan akibat erupsi, masyarakat membutuhkan ketenangan sekaligus tindakan nyata.


Jika pemerintah dan petugas kebencanaan menetapkan zona berbahaya, masyarakat perlu mengikuti arahan evakuasi, menjauhi kawasan yang dilarang, menggunakan perlindungan sesuai anjuran, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.


Pada saat yang sama, doa, zikir dan istighfar tetap dapat menjadi sumber ketenangan batin.
Kaki bergerak menuju tempat aman, sementara hati tetap bersandar kepada Allah.
Inilah bentuk keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
bencana menjadi pelajaran, bukan alasan untuk menghakimi.


Erupsi seharusnya tidak menjadi ruang untuk menuding kelompok tertentu sebagai penyebab bencana. Tidak ada manusia yang berhak memastikan bahwa musibah yang menimpa suatu daerah merupakan hukuman Allah kepada orang-orang tertentu.
Yang lebih penting adalah menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum muhasabah bersama.


Manusia diingatkan bahwa sehebat apa pun teknologi, sebesar apa pun kekuasaan, dan sebanyak apa pun harta yang dimiliki, tetap ada kekuatan alam yang berada di luar kendalinya.


Dari sana lahir kesadaran untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan manusia dengan lingkungan dan sistem mitigasi bencana.
iman dan sains tidak perlu dipertentangkan
Ketangguhan masyarakat menghadapi bencana tidak lahir dari mempertentangkan agama dengan ilmu pengetahuan.


Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan.
Sains memberi peringatan. Pemerintah menentukan langkah mitigasi. Masyarakat melakukan evakuasi. Sementara iman memberikan keteguhan hati untuk menghadapi ketidakpastian.


Erupsi akhirnya bukan hanya tentang gunung yang memuntahkan material vulkanik.
Ia juga menjadi pengingat bahwa manusia harus rendah hati di hadapan kekuasaan Sang Pencipta—seraya tetap menggunakan akal, ilmu pengetahuan dan ikhtiar untuk menyelamatkan kehidupan.


Sebab dalam menghadapi bencana, berdoa tanpa ikhtiar adalah ketimpangan, sementara ikhtiar tanpa kesadaran spiritual dapat membuat manusia lupa bahwa dirinya tetap makhluk yang terbatas.


Doa menguatkan hati. Ilmu memberi arah. Mitigasi menyelamatkan jiwa. Dan tawakal menyempurnakan ikhtiar.


(Dok. KN+ Jakfar Sidik.)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *