Wanita Shalihah dan Bijak Gunakan Smartphone di Era Digital

Kabar Negeri Plus, 9 April 2026“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shalihah.” Pesan ini tetap relevan di tengah derasnya arus digitalisasi yang kini merambah seluruh aspek kehidupan.

Di era modern, emansipasi wanita telah menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki dalam berbagai bidang. Seiring itu, penggunaan smartphone—khususnya berbasis Android—sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan masyarakat. Hampir setiap individu, baik laki-laki, perempuan, hingga anak-anak, kini memiliki perangkat komunikasi ini.

Fenomena ini menunjukkan bahwa smartphone telah menjadi bagian dari budaya hidup. Penyebarannya begitu cepat, layaknya jamur yang tumbuh subur setelah hujan. Bahkan, anak-anak kini termasuk pengguna aktif teknologi digital.

Smartphone: Kebutuhan atau Ketergantungan?

Tidak dapat dipungkiri, komunikasi dan sosialisasi merupakan kebutuhan dasar manusia. Smartphone hadir sebagai alat yang mempermudah kedua hal tersebut. Namun, permasalahan muncul ketika pengguna tidak mampu mengontrol diri.

Baca Kuga: 

Menggenggam Bara Api di Akhir Zaman: Bertahan di Jalan Tauhid Saat Dunia Berubah

 

Banyak orang tetap terpaku pada layar meski tidak lagi memiliki kebutuhan yang mendesak. Kebiasaan ini perlahan berubah menjadi ketergantungan.

Solusi sederhana namun efektif adalah mengurangi durasi penggunaan secara bertahap. Misalnya, mengurangi satu menit penggunaan setiap hari. Jika dilakukan konsisten, dalam setahun waktu penggunaan dapat berkurang signifikan dan memberikan dampak positif terhadap produktivitas.

Dua Sisi Penggunaan Smartphone

Secara garis besar, penggunaan smartphone dapat dibagi menjadi dua:

1. Penggunaan yang Merugikan

Smartphone menjadi sumber kerugian jika digunakan untuk menyebarkan konten negatif, seperti foto tidak pantas atau hal-hal yang melalaikan. Konten semacam ini akan terus beredar, bahkan saat pemiliknya sedang tidur.

Sebagaimana disampaikan oleh Habib Hasan Asy-Syatiri:
“Ada di antara manusia yang dicatat tengah berdosa padahal mereka sedang tidur.”

Hal ini menjadi pengingat bahwa jejak digital memiliki konsekuensi jangka panjang.

2. Penggunaan yang Menguntungkan

Sebaliknya, smartphone dapat menjadi ladang pahala jika dimanfaatkan untuk hal-hal positif. Konten kebaikan yang disebarkan akan terus memberi manfaat kepada banyak orang, bahkan tanpa kehadiran langsung dari pembuatnya.

Dengan niat yang benar, seseorang bisa termasuk dalam golongan yang tetap mendapatkan pahala meski sedang beristirahat.

Ajakan untuk Bijak dan Istiqomah

Penggunaan teknologi seharusnya diarahkan untuk memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat luas. Hal ini berlaku untuk semua kalangan—laki-laki, perempuan, hingga generasi muda.

Dengan niat yang tulus dan komitmen untuk istiqomah, penggunaan smartphone dapat menjadi sarana menebar kebaikan dan memperkuat nilai-nilai moral di tengah masyarakat.

Semoga setiap langkah kita dalam memanfaatkan teknologi selalu bernilai ibadah dan membawa manfaat yang luas.

Dok: KN+ Jakfar Sidik

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *