“Nyawa Pekerja Di pertaruhkan” 100 Peserta Padati Sosialisasi K3 di Lampung, Seruan keras : Jangan Anggap Sepele Keselamatan Kerja.

Nyawa Pekerja Dipertaruhkan!” 100 Peserta Padati Sosialisasi K3 di Lampung, Seruan Keras: Jangan Anggap Sepele Keselamatan Kerja
LAMPUNG, 10 April 2026 – Isu keselamatan kerja kembali menjadi sorotan tajam. Sekitar 100 peserta memadati kegiatan sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang digelar di Swisst-Belhotel Lampung. Antusiasme tinggi terlihat sejak awal acara, menandakan meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan pekerja.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rinaldi Umar, SH., MH., yang menyampaikan peringatan tegas: keselamatan kerja tidak boleh lagi dianggap sebagai formalitas belaka.
“K3 adalah tanggung jawab bersama. Jika diabaikan, yang dipertaruhkan adalah nyawa manusia,” tegasnya dalam sambutan pembuka.
Bukan Sekadar APD, Tapi Budaya Kerja
Materi utama disampaikan oleh Indra, SH., MH., yang mengupas tuntas konsep K3 secara komprehensif. Ia menegaskan bahwa selama ini masih banyak pihak yang keliru memaknai keselamatan kerja hanya sebatas penggunaan alat pelindung diri (APD).
Menurutnya, K3 yang sesungguhnya mencakup:
Pemahaman terhadap risiko kerja
Disiplin dan sikap kerja
Budaya keselamatan yang konsisten
“Banyak kecelakaan kerja terjadi bukan karena tidak ada alat, tetapi karena kelalaian dan rendahnya kesadaran,” ujarnya.
Perlindungan Pekerja Jadi Isu Krusial
Dalam forum tersebut, perlindungan terhadap pekerja—terutama di sektor berisiko tinggi—menjadi pembahasan utama. Pentingnya advokasi bagi pekerja yang mengalami persoalan ketenagakerjaan maupun kecelakaan kerja turut ditekankan.
Tak hanya itu, peserta juga didorong untuk bergabung dalam serikat pekerja guna memperkuat perlindungan hak-hak mereka. Keberadaan tim pengawasan dinilai sangat penting agar standar K3 benar-benar diterapkan di lapangan.
Belajar dari Tragedi di Negara Lain
Sesi lanjutan disampaikan oleh Unang Mulkhan, MBA., PhD., yang mengingatkan bahwa lemahnya penerapan K3 telah menimbulkan banyak korban di berbagai negara.
Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama.
“Budaya K3 harus dibangun secara serius, konsisten, dan berkeadilan. Jangan menunggu korban berikutnya,” ujarnya tegas.
Harapan: Dari Seremonial ke Aksi Nyata
Sosialisasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi titik awal perubahan nyata di lingkungan kerja masing-masing peserta.
Dengan meningkatnya kesadaran dan komitmen bersama, penerapan K3 diharapkan mampu menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan sejahtera.
Kabar Negeri Plus mencatat, keselamatan kerja bukan lagi pilihan—melainkan keharusan mutlak demi melindungi setiap pekerja dari risiko yang mengancam nyawa.
(Dok.KN +/Hasanrudi)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *