Riya’: Amal yang Terlihat Besar, Tapi Kosong di Hadapan Allah

 

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian)

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan menguatkan iman, karena tidak semua amal yang terlihat baik bernilai di hadapan Allah—semuanya bergantung pada niat di dalam hati.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.

Dalil

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, dan mereka yang berbuat riya’.”
(QS Al-Ma’un [107]: 4–6)

Inti Pesan

Riya’ adalah penyakit hati yang paling halus, tetapi paling berbahaya. Ia tidak merusak dari luar, tetapi mengosongkan dari dalam.

Seseorang bisa terlihat rajin ibadah, aktif dalam kebaikan, bahkan dipuji banyak orang. Namun jika semua itu dilakukan untuk dilihat, maka nilainya hilang di sisi Allah.

Inilah yang sering tidak disadari. Kita merasa sudah beramal, padahal yang dicari adalah pengakuan.

Baca Juga:

Salat Subuh: Ujian Iman yang Paling Nyata Setiap Hari

Istiqamah: Konsisten di Jalan Ketaatan

 

Riya’ tidak selalu besar. Ia bisa hadir dalam hal kecil—ingin dipuji, ingin dilihat lebih baik, atau merasa kecewa ketika tidak dihargai.

Jika tidak dijaga, riya’ akan menghapus makna dari seluruh amal.

Aksi Hari Ini

Latih diri untuk meluruskan niat:

  • Periksa niat sebelum beramal
    Tanyakan: ini untuk Allah atau untuk dilihat orang lain?
  • Biasakan amal tersembunyi
    Lakukan kebaikan tanpa diketahui orang lain untuk melatih keikhlasan.
  • Jangan bergantung pada pujian
    Pujian manusia tidak menambah nilai di sisi Allah.

Kunci: keikhlasan adalah ruh dari setiap amal.

Amal tanpa keikhlasan ibarat tubuh tanpa nyawa—terlihat ada, tetapi tidak bernilai. Keikhlasan menjadikan amal kecil terasa besar di sisi Allah, sementara riya’ membuat amal besar menjadi kosong. Orang yang ikhlas tidak sibuk mencari pengakuan, karena ia yakin Allah melihat dan mengetahui segalanya. Dari keikhlasan lahir ketenangan, karena tidak lagi bergantung pada penilaian manusia, tetapi hanya berharap ridha Allah semata.

Penutup

Jangan sampai kita lelah beramal, tetapi kehilangan nilainya.
Perbaiki niat, maka amal akan bernilai.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *