Ketua Partai Buruh Lampung Serukan Makna Puasa sebagai Jalan Keadilan dan Kemanusiaan

Kabar Negeri Plus – Bandar Lampung – Di tengah padatnya aktivitas organisasi dan perjuangan advokasi buruh, Ketua Partai Buruh, Sulaiman Ibrahim, SH, menyampaikan refleksi mendalam tentang makna ibadah puasa di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Ia menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan spiritual untuk kembali pada fitrah kesucian manusia.

“Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183: ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa’,” ujarnya. Menurutnya, inti puasa adalah membentuk ketakwaan yang berdampak nyata dalam kehidupan sosial.

Ia menekankan bahwa Ramadhan adalah momentum menggali esensi diri yang paling jernih. “Dalam lapar, kita belajar menumbuhkan keikhlasan. Dalam dahaga, kita melatih kesabaran. Ini proses pembinaan jiwa, bukan sekadar ritual,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengaitkan puasa dengan empati sosial. “Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’ (HR. Bukhari dan Muslim). Puasa melatih kita merasakan derita orang lain dan mendorong kita untuk memperjuangkan keadilan,” jelasnya.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan perjuangan buruh, nilai ini menjadi landasan moral yang kuat. Ia mengajak untuk meninggalkan sifat-sifat yang merusak: individualistik, tamak, arogan, dan kemunafikan. “Di antara lapar dan dahaga, kita diajak menyederhanakan hidup, menghapus kebencian, dan memperkuat persaudaraan,” lanjutnya.

Ia juga mengutip pesan Rasulullah ﷺ: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari). Menurutnya, ini penegasan bahwa puasa harus melahirkan integritas moral, bukan sekadar formalitas ibadah.

Sulaiman menutup dengan penegasan bahwa puasa yang dijalankan dengan kesadaran utuh akan membentuk manusia yang adil dan beradab. “Di dalam hati yang bersih ada iman, kasih sayang, kebenaran, dan keadilan. Dari sanalah lahir kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih manusiawi dan berkeadilan,” pungkasnya.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *