
Hari Pramuka 2026 : Ketika Dasa Darma bertemu Kode etik Jurnalistik – Berani Mencari Kebenaran,Teguh Menjaga Kepercayaan.
BANDAR LAMPUNG — Pramuka bukan sekadar seragam cokelat. Bukan sekadar tepuk tangan, upacara, tali-temali, atau barisan yang berdiri tegak di bawah terik matahari.
Di balik tunas kelapa itu ada karakter.
Ada keberanian.
Ada kedisiplinan.
Ada pengabdian.
Ada janji untuk hidup dengan nilai dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan.
Dan ketika nilai-nilai itu dibawa ke dunia jurnalistik, ada sebuah pertemuan yang menarik: Dasa Darma Pramuka bertemu Kode Etik Jurnalistik.
Keduanya lahir dari ruang yang berbeda, tetapi memiliki satu napas yang sama: integritas.
Di tengah zaman ketika informasi dapat berlari lebih cepat daripada kebenaran, ketika judul bisa lebih dulu viral sebelum fakta selesai diverifikasi, dan ketika opini terkadang menyamar menjadi berita, nilai-nilai tersebut justru semakin penting.
DASA DARMA: BUKAN HAFALAN, TAPI PEDOMAN
Dasa Darma Pramuka selama ini mungkin lebih sering terdengar sebagai sepuluh prinsip yang dihafalkan para anggota Pramuka.
Tetapi bagi insan jurnalistik, Dasa Darma dapat dibaca lebih dalam.
Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Seorang jurnalis membutuhkan kompas moral. Sebab tidak semua yang bisa diberitakan harus diberitakan dengan cara yang serampangan.
Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
Inilah wajah jurnalistik yang berpihak kepada kemanusiaan. Berita bukan sekadar angka, bukan sekadar peristiwa, dan bukan sekadar bahan mengejar klik. Di balik sebuah peristiwa selalu ada manusia, ada keluarga, ada penderitaan, ada harapan.
Patriot yang sopan dan kesatria.
Jurnalis boleh tajam, tetapi tidak boleh kehilangan etika.
Boleh kritis, tetapi tidak boleh memfitnah.
Boleh membongkar persoalan, tetapi tetap wajib menghormati martabat manusia.
Patuh dan suka bermusyawarah.
Dalam jurnalistik, ini dapat dimaknai sebagai kesediaan mendengar. Sebab berita yang baik tidak lahir dari satu suara saja.
Ada hak jawab.
Ada konfirmasi.
Ada verifikasi.
Ada kewajiban untuk memberikan ruang kepada pihak yang diberitakan.
Rela menolong dan tabah.
Inilah wajah pers yang hadir ketika masyarakat membutuhkan suara.
Ketika warga kecil berhadapan dengan persoalan yang tidak mampu mereka suarakan sendiri, jurnalis seharusnya tidak menutup mata.
Namun keberpihakan kepada masyarakat tidak boleh berubah menjadi keberpihakan kepada fakta yang belum teruji.
Rajin, terampil, dan gembira.
Jurnalis harus terus belajar.
Belajar membaca data.
Belajar memverifikasi informasi.
Belajar memahami hukum.
Belajar teknologi.
Belajar membaca perubahan zaman.
Karena jurnalis yang berhenti belajar akan mudah dikalahkan oleh derasnya informasi.
Hemat, cermat, dan bersahaja.
Cermat adalah jantung jurnalistik.
Satu nama yang salah dapat menghancurkan reputasi seseorang.
Satu angka yang keliru dapat mengubah makna sebuah berita.
Satu informasi yang tidak diverifikasi dapat berubah menjadi fitnah.
Disiplin, berani, dan setia.
Inilah salah satu titik paling kuat pertemuan Pramuka dengan jurnalistik.
Berani bukan berarti mencari sensasi.
Berani adalah berani bertanya ketika orang lain memilih diam.
Berani melakukan verifikasi ketika informasi sudah telanjur viral.
Berani mengungkap fakta ketika ada kepentingan yang mencoba menutupinya.
Dan berani pula mengatakan: “Kami salah,” ketika sebuah informasi ternyata tidak benar.
Bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
Inilah ruh jurnalistik.
Karena berita bukan sekadar tulisan.
Berita adalah kepercayaan publik.
Sekali kepercayaan itu dihancurkan, tidak mudah untuk mengembalikannya.
Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Bagi seorang jurnalis, ini adalah pengingat bahwa apa yang ditulis harus sejalan dengan apa yang diketahui sebagai fakta.
Jangan memelintir fakta untuk membangun opini.
Jangan mengorbankan kebenaran demi popularitas.
Jangan menjadikan penderitaan manusia sebagai sekadar komoditas pemberitaan.
DANGS YULI FRANSYAH: JURNALIS HARUS PUNYA KOMpas MORAL
Direktur Kabar Negeri Plus, Dangs Yuli Fransyah, menilai semangat Hari Pramuka dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali karakter dan integritas dalam dunia jurnalistik.
Menurutnya, insan pers tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk mengungkap sebuah persoalan.
Keberanian tersebut harus dikawal oleh etika.
«“Semangat Pramuka jangan berhenti di lapangan upacara. Mari kita bawa semangat Dasa Darma itu ke dalam jiwa jurnalistik kita. Karena jurnalis juga membutuhkan keberanian, kedisiplinan, kecermatan, tanggung jawab dan yang paling utama adalah integritas,” ujar Dangs Yuli Fransyah.»
Ia menegaskan, jurnalistik bukan perlombaan siapa yang paling cepat memberitakan.
Jurnalistik adalah perjuangan siapa yang paling mampu menjaga kebenaran.
«“Cepat itu penting, tetapi benar jauh lebih penting. Tajam itu perlu, tetapi etika tidak boleh ditinggalkan. Kritik harus tetap berdiri di atas fakta. Dan keberanian harus tetap berjalan bersama tanggung jawab,” tegasnya.»
Dangs mengatakan, di era media sosial dan ledakan informasi saat ini, tantangan terbesar jurnalis bukan hanya mencari berita.
Tantangan terbesar adalah menjaga agar dirinya tidak menjadi bagian dari penyebaran informasi yang salah.
Sebab satu berita yang keliru bisa menyakiti seseorang.
Satu tuduhan tanpa dasar bisa menghancurkan nama baik.
Satu informasi yang tidak diverifikasi bisa memicu keresahan.
Dan satu berita yang sengaja dipelintir dapat meruntuhkan kepercayaan publik terhadap pers.
«“Kita boleh mengejar berita. Kita boleh mengejar eksklusivitas. Kita boleh mengejar kecepatan. Tetapi jangan pernah mengejar viralitas dengan mengorbankan kebenaran,” kata Dangs.»
DASA DARMA DAN KODE ETIK: DUA PEDOMAN, SATU NAPAS
Dasa Darma mengajarkan karakter.
Kode Etik Jurnalistik menjaga profesionalitas.
Dasa Darma mengajarkan keberanian.
Kode etik mengingatkan bahwa keberanian harus bertanggung jawab.
Dasa Darma mengajarkan kepedulian.
Jurnalistik mengajarkan bahwa kepedulian harus dibangun berdasarkan fakta.
Dasa Darma mengajarkan kesetiaan.
Kode etik menuntut kesetiaan kepada kebenaran dan kepentingan publik, bukan kepada kepentingan pribadi atau kelompok.
Di situlah pers dan Pramuka menemukan titik pertemuannya.
Bukan pada seragam.
Bukan pada atribut.
Tetapi pada karakter.
Karena seorang jurnalis tanpa integritas hanya akan menjadi orang yang pandai menulis.
Namun seorang jurnalis yang memiliki integritas dapat menjadi penjaga ruang publik.
JANGAN BIARKAN KEBENARAN KALAH OLEH KECEPATAN
Hari Pramuka 2026 seharusnya menjadi momentum untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
Untuk apa kita menulis?
Untuk apa kita memberitakan?
Untuk siapa kamera diarahkan?
Untuk siapa mikrofon diberikan?
Dan yang paling penting:
Apakah setiap berita yang kita lahirkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus menjadi cermin bagi setiap insan pers.
Sebab pers bukan sekadar industri.
Pers adalah bagian dari kehidupan demokrasi.
Pers adalah ruang kontrol sosial.
Pers adalah suara publik.
Dan karena itulah, kepercayaan tidak boleh diperdagangkan.
Dari semangat Pramuka kita belajar untuk menjadi manusia yang tangguh.
Dari dunia jurnalistik kita belajar untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Ketika keduanya bertemu, lahirlah sebuah prinsip sederhana:
Berani mencari fakta.
Berani menyampaikan kebenaran.
Berani mengoreksi kesalahan.
Dan berani berdiri untuk kepentingan masyarakat.
Karena pada akhirnya, jurnalis sejati bukan mereka yang paling keras suaranya, melainkan mereka yang tetap memegang kebenaran ketika suara-suara lain mencoba menenggelamkannya.
Selamat Hari Pramuka Nasional.
Mari hidupkan Dasa Darma dalam kerja jurnalistik.
Jadikan integritas sebagai kompas, fakta sebagai pijakan, etika sebagai pagar, dan kepentingan masyarakat sebagai tujuan.
Salam Pramuka.
Salam Jurnalistik.
Salam Kabar Negeri Plus.
(Dok.KN +/Admin)

