Menjadi Penyejuk di Tengah Banyaknya Kemarahan

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman

(Rubrik Dakwah Harian – 12 Agustus 2026 | Hari 12 Minggu II)

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh.

Hari ini kita hidup di tengah dunia yang begitu mudah dipenuhi amarah.

Perbedaan pendapat berujung permusuhan.

Kesalahan kecil dibalas dengan kata-kata yang melukai.

Media sosial dipenuhi caci maki.

Rumah tangga retak karena emosi yang tidak terkendali.

Persaudaraan hancur hanya karena ego yang tidak mau mengalah.

Padahal Rasulullah ﷺ datang membawa rahmat.

Beliau mengajarkan bahwa seorang mukmin bukanlah orang yang menambah panas suasana.

Melainkan menjadi penyejuk di tengah kemarahan.

Menjadi penenang ketika orang lain emosi.

Menjadi pembawa damai ketika terjadi perselisihan.

Karena akhlak yang baik bukan hanya terlihat ketika keadaan tenang.

Tetapi justru tampak ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya saat sedang marah.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta’īnuhu wa nastaghfiruh, wa na’ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a’mālinā.

Semakin tinggi iman seseorang.

Semakin tenang hatinya menghadapi ujian dan perlakuan manusia.

Dalil

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS Ali ‘Imran [3]: 134)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

“Jangan marah.”

Beliau mengulanginya beberapa kali.

(HR. Al-Bukhari)

Inti Pesan

Marah adalah fitrah manusia.

Namun memperturutkan kemarahan adalah pilihan.

Banyak dosa terjadi karena satu ledakan emosi.

Perceraian.

Permusuhan.

Perkelahian.

Fitnah.

Bahkan pembunuhan.

Semuanya sering kali berawal dari amarah yang tidak dikendalikan.

Islam tidak mengajarkan kita memendam emosi hingga menyakiti diri sendiri.

Islam mengajarkan kita mengelolanya.

Dengan berzikir.

Berwudu.

Diam ketika emosi.

Mengubah posisi.

Dan mengingat bahwa Allah selalu melihat setiap ucapan yang keluar dari lisan kita.

Orang yang mampu mengendalikan kemarahannya bukan berarti tidak memiliki keberanian.

Justru ia memiliki kekuatan terbesar.

Yaitu kemenangan atas hawa nafsunya sendiri.

Kisah Teladan

Salah satu kisah yang menunjukkan indahnya akhlak Rasulullah ﷺ adalah ketika seorang Arab Badui menarik selendang beliau dengan sangat kasar hingga meninggalkan bekas di leher beliau.

Orang itu berkata dengan nada keras,

“Wahai Muhammad, berikan kepadaku harta Allah yang ada padamu!”

Para sahabat marah melihat perlakuan tersebut.

Mereka siap menegur bahkan menghukum orang itu.

Namun Rasulullah ﷺ tidak membalas dengan kemarahan.

Beliau justru tersenyum.

Kemudian memerintahkan agar orang tersebut diberi sesuatu dari harta yang ada.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah.

Beliau memiliki kesempatan untuk membalas.

Tetapi beliau memilih kelembutan.

Karena beliau datang bukan untuk melampiaskan amarah.

Melainkan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Akhlak inilah yang akhirnya membuat banyak hati tunduk kepada Islam.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Hari ini mungkin ada orang yang menyakiti kita dengan perkataannya.

Ada yang memfitnah.

Ada yang merendahkan.

Ada yang tidak menghargai usaha kita.

Jangan terburu-buru membalas.

Diam sejenak.

Beristighfarlah.

Ingatlah bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kadang satu kalimat yang tidak jadi diucapkan lebih besar pahalanya daripada seribu kalimat yang keluar saat emosi.

Kunci

Menenangkan suasana adalah akhlak para nabi, sedangkan memperbesar pertengkaran adalah jalan yang disukai setan.

Baca Juga:

Menahan Amarah: Ujian Takwa dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Aksi Hari Ini

Jika muncul rasa marah, jangan langsung berbicara

Diamlah beberapa saat dan perbanyak istighfar.

Biasakan menjawab dengan kata-kata yang lembut

Meskipun orang lain sedang berbicara dengan emosi.

Perbanyak doa memohon kelembutan hati

Karena hati yang lembut adalah anugerah dari Allah.

Jadilah pendamai ketika melihat perselisihan

Bukan justru memperkeruh keadaan.

Muhasabah sebelum tidur

Tanyakan kepada diri sendiri,

“Apakah hari ini aku menjadi penyejuk bagi orang lain, atau justru menjadi penyebab bertambahnya kemarahan?”

Orang yang dicintai Allah bukanlah yang selalu menang dalam perdebatan.

Tetapi yang mampu menjaga akhlaknya di tengah ujian.

Penutup

Saudaraku yang dirahmati Allah.

Dunia hari ini membutuhkan lebih banyak orang yang menenangkan, bukan memanaskan.

Lebih banyak yang memaafkan, bukan membalas.

Lebih banyak yang mendamaikan, bukan memecah belah.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ tetap tersenyum dan berbuat baik kepada orang yang memperlakukan beliau dengan kasar, marilah kita belajar menjadi penyejuk di tengah banyaknya kemarahan.

Karena kelembutan mampu membuka pintu hati yang tidak akan pernah terbuka oleh kekerasan.

Jangan biarkan emosi menguasai iman.

Jadikan setiap perkataan sebagai jalan menuju pahala.

Dan jadikan setiap sikap sebagai cerminan akhlak Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah melembutkan hati kita, menjaga lisan kita dari ucapan yang menyakitkan, menjadikan kita pembawa kedamaian di tengah masyarakat, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ yang memiliki akhlak paling mulia.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *