Masa Tua dan Istiqamah dalam Ibadah: Kunci Keberkahan Umur Seorang Muslim

Oleh: Junaidi Jamsari
Penulis Tinggal di Lampung Barat

Kabar Negeri Plus

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Umur adalah modal pokok bagi seorang muslim. Ia merupakan anugerah dari Allah SWT, dan mensyukuri anugerah tersebut adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dengan mengelola waktu harian secara baik, kita berharap dapat mewujudkan agenda kebaikan yang telah direncanakan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Tiga hal yang akan mengantar mayit ke kubur, yaitu keluarga, harta, dan amalnya. Keluarga dan harta akan kembali ke dunia, sedangkan amalnya akan tetap menemaninya di akhirat.” (HR. Muslim)

Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, seorang badui bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang terbaik itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Tirmidzi No. 2251)

Oleh karena itu, mari kita manfaatkan sisa umur dan kesempatan yang masih diberikan oleh Allah SWT untuk bertaubat dan meningkatkan amal kebaikan, sehingga kita memiliki bekal yang cukup untuk kehidupan di akhirat kelak. Amalan yang baik adalah amalan yang diistiqamahkan, dijalani secara tulus dan terus-menerus.

Sabda baginda Nabi Muhammad SAW:
“Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

Istiqamah merupakan kunci penting untuk mengisi sisa umur kita dengan kebaikan. Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah halaman 28 menjelaskan:

“Dan kamu tidak akan mampu menjalankan perintah Allah kecuali jika kamu dapat mengatur waktumu dan menyusun jadwal aktivitas harianmu dari pagi hingga sore. Maka perhatikanlah dengan sungguh-sungguh apa yang diperintahkan Allah kepadamu, sejak kamu bangun dari tidur hingga kembali beristirahat.”

Pengelolaan waktu yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali tersebut bukan sekadar dalam ibadah mahdhah, tetapi juga mencakup seluruh aktivitas kehidupan. Misalnya, setelah kita mengerjakan ketaatan dan berbagai kebaikan, kita juga seyogianya memiliki waktu istirahat atau rekreasi yang proporsional. Hal ini penting untuk menjaga semangat agar tetap produktif dan konsisten dalam berbuat baik.

Masa muda dan usia dewasa merupakan fase terpenting dalam kehidupan manusia. Betapa pentingnya masa muda, sebab usia muda sangat menentukan masa tua.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada seorang laki-laki, ketika menasihatinya:
“Gunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara:

  1. Gunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
  2. Gunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu,
  3. Gunakan masa kayamu sebelum datang masa fakirmu,
  4. Gunakan masa longgarmu sebelum datang masa sibukmu,
  5. Gunakan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.”

(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Masa muda dan usia dewasa merupakan fase terpenting dalam kehidupan manusia. Betapa pentingnya masa muda, sebab usia muda menentukan masa tua.

Dan sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya tetapi jelek amalnya. Dalam hadits disebutkan:

Dari ‘Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari ayahnya, bahwa seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?” Beliau bersabda:
“Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.”
Ia bertanya lagi: “Lalu siapa yang paling buruk?”
Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya tetapi jelek amalnya.”
(HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra’: 36)

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.”
(QS. At-Takatsur: 8)

Baca Juga:

 

Dalam hadits disebutkan, dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.”
(HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Hendaknya ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, bahwa yang terpenting bukan sekadar panjang usia, melainkan keberkahan usia. Usia yang berkah ditandai dengan baiknya amal ibadah, akhlak yang mulia, serta karya yang bermanfaat bagi umat.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada kita, agar mampu menggapai usia yang berkah dan memanfaatkan umur dengan sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Dok. KN+ Admin)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *